Aku memandangi kelabu yang memeluk langit begitu eratnya dari tepi jendela yang terbuka sedikit. Terkadang aku memejamkan mata untuk merasakan angin yang menyapaku, dia tidak lembut tapi terasa amat dingin, entahlah aku menyukainya. Aroma hujan mulai merasuki penciumanku. Aku berdebar, entah kenapa hujan dan segenap kesenduan yang dihadirkannya mampu membuatku hanyut, terpaku dan luruh dalam segenap imajinasiku.
Kadang kala aku merasa hari-hari ini begitu sepi, aku sepi diantara manusia yang seolah tak punya waktu sedikitpun untuk berhenti, menepi dari huru-hara dunia yang menggerogoti imaji, lalu bersyukur pada illahi. Namun entah kenapa, lagi-lagi hujan yang dihindari begitu banyak manusia masa kini, sangat menyenangkan untuk dinikmati, percikan airnya, aroma tanah kering yang perlahan basah, angin dingin yang terbang membabi buta disertai debu-debu yang berseliweran kemana-manalah yang sangat bisa membuatku jatuh cinta.
Tapi di hujan kali ini, aku sedikit merutuki suara gemuruh yang mengganggu. Sebenarnya suaranya tak begitu mengganggu ku, tapi kenangan yang dibawanya membuat imajinasiku biru, abu-abu, ingin rasanya aku lumpuhkan tapi lagi-lagi aku tak mampu.
Semua memori yang tak pernah aku usik dari peraduannya, hadir dibenakku dengan segala keangkuhannya. Aku merasa tersudutkan, ditertawakan sendiri oleh masa-masa yang indah namun menyimpan kelu. Sebenarnya tak ada yang salah dari semua itu, hanya saja mungkin aku terlalu rindu.
Andai aku bisa minta pada semesta untuk satu hal sederhana, aku ingin ingatan ini memaafkanku dan memberiku MAMPU untuk melupakan semua hal indah yang terjadi dalam hidupku. Karena sungguh aku tak butuh yang sementara. Aku hanya perlu satu dekapan yang menyesakkan dadaku dan kecupan janji di dahi, janji bahwa dekapan itu akan selalu erat dan takkan pernah alpa untukku.
Jika aku bisa sampaikan, aku ingin katakan bahwa aku bukan tidak menyayangi apa yang tekah aku punya dahulunya. Aku hanya tak ingin seperti dandelion, yang di puja banyak penikmatnya namun akhirnya harus dicabut dan dipisahkan shelai demi hilai bunganya demi eksistensi manusia dan alibi mereka sebagai penikmat seni. Seni bagi mereka adalah mati bagi apa yang mereka kagumi, salah satu konsep berfikir manusia masa kini yang aku benci.





























Komentar
Posting Komentar