Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Maa woman (1)

Aku tersentak dari lamunan jalinan saraf kusut yang belum menemukan tangan mahir untuk mengurainya menjadi lebih lapang daripada sesak. Aku masih hanyut dalam irama aliran air yang terkadang terdengar menghilang seiring angin semilir menjadi henti. Wanita tua itu hadir lagi dalam imajinasi hati. Wanita tua yang masa tuanya ia habiskan untuk bermunajat dalam rengkuhan malam hanya untuk pengharapan atas masa mudaku. Sosok itu muncul dalam balutan yang biasa ia kenakan dengan sanggulan khas rambutnya yang memutih dimana-mana. Ia mengajakku menyantap kue-kuean yang baru saja ia masak di sore teduh itu di pondok kecil didepan rumah sederhananya yang semerbak dengan bebauan bunga-bunga yang aku belum pernah lihat. Dari pendopo ini aku memandangi pepohonan akasia yang berbaris rapi diatas tanaman rumput yang berbukit membentuk setapak yang sangat indah yang disinari oleh pantulan mentari ashar dari danau tenang yang tepat disamping rumah berbilik bambu ini. "Kenapa tempat ini begitu ind...