Ayah (Andrea Hirata) - Sebuah Kisah tentang kekuatan cinta dan rasa percaya
Untuk saya pribadi, buku ini bukan hanya sekedar novel keluarga yang bisa membangun kedekatan antara ayah dan anak. Tapi buku ini adalah sebuah keajaiban karya seorang penulis handal yang sejak dulu saya idolakan (Andrea Hirata) yang telah kembali membuat saya terpesona takjub dan mendapatkan jawaban dari makna yang selama ini saya cari-cari dalam hidup saya, cinta.
.
.
Hal yang selalu saya kagumi dari seorang Andrea Hirata adalah bagaimana caranya membawa pembaca untuk merasakan emosi dari tiap kata yang ia rajut menjadi penggalan kalimat-kalimat indah yang sampai saat ini selalu mampu menyihir saya untuk kembali jatuh cinta, berkali-kali pada karyanya.
Novel ini komplit, saya bisa sampai terpingkal-pingkal atau bahkan mencoba berusaha menghentikan air mata yang sudah penuh membanjiri bantal saya hahaha.
Tokoh yang paling menginspirasi saya tentulah sang "Ayah" yang digambarkan sebagai lelaki bernama "Sabari bin Insyafi. Meskipun tokoh cerita dalam novel ini didominasi oleh sosok para "Ayah" yang masing-masing kisahnya mampu membuat pembaca berdecak kagum dan berderai airmata (Markoni, Ayah Sabari, dua mantan suami Lena yang pernah mengurus anaknya -Zorro- , Bapak pengantar surat) dan dengan penyampaian kisahnya yang ciamik namun terkesan jauh dari kesan dramatis menjadikan novel ini beserta kisah para "Ayah" di dalamnya menjadi dramatis tanpa perlu didramatisir.
.
.
Singkat cerita, selain novel ini tidak hanya bisa membuat pembaca haru biru dan mendadak rindu dengan lelaki pertama yang mencintai kita di dunia ini, Andrea Hirata juga mengajarkan kita bagaimana cara untuk mencintai seseorang secara tulus, jujur dan pantang menyerah. Walaupun untuk sebagian orang mugkin cara sabari dalam mencintai Lena (Cinta Pertamanya) terkesan sedikit berlebihan , namun itulah pointnya. Kesabarannya mengajarkan kita bahwa cinta seperti itu memang ada, kekuatan cinta memang sangat kuat jika hanya untuk membolak-balikkan akal manusia.
.
.
Dalam penggalan-penggalan percakapan dalam novel ini, banyak berisi pesan-pesan moral yang disiratkan dalam bentuk puisi atau kalimat-kalimat emas para pujangga itu.
Saya jatuh cinta dengan novel ini dan beruntung untuk bisa membacanya berkali-kali.
Meremang bahagia haru dan pilu, itulah perasaan yang selalu saya rasakan ketika lembaran terakhir novel ini saya sibak. Seandainya setiap orang bisa seperti sabari, mencinta dengan sabar, tulus dan sepenuh hati.
.
.
Hal yang selalu saya kagumi dari seorang Andrea Hirata adalah bagaimana caranya membawa pembaca untuk merasakan emosi dari tiap kata yang ia rajut menjadi penggalan kalimat-kalimat indah yang sampai saat ini selalu mampu menyihir saya untuk kembali jatuh cinta, berkali-kali pada karyanya.
Novel ini komplit, saya bisa sampai terpingkal-pingkal atau bahkan mencoba berusaha menghentikan air mata yang sudah penuh membanjiri bantal saya hahaha.
Tokoh yang paling menginspirasi saya tentulah sang "Ayah" yang digambarkan sebagai lelaki bernama "Sabari bin Insyafi. Meskipun tokoh cerita dalam novel ini didominasi oleh sosok para "Ayah" yang masing-masing kisahnya mampu membuat pembaca berdecak kagum dan berderai airmata (Markoni, Ayah Sabari, dua mantan suami Lena yang pernah mengurus anaknya -Zorro- , Bapak pengantar surat) dan dengan penyampaian kisahnya yang ciamik namun terkesan jauh dari kesan dramatis menjadikan novel ini beserta kisah para "Ayah" di dalamnya menjadi dramatis tanpa perlu didramatisir.
.
.
Singkat cerita, selain novel ini tidak hanya bisa membuat pembaca haru biru dan mendadak rindu dengan lelaki pertama yang mencintai kita di dunia ini, Andrea Hirata juga mengajarkan kita bagaimana cara untuk mencintai seseorang secara tulus, jujur dan pantang menyerah. Walaupun untuk sebagian orang mugkin cara sabari dalam mencintai Lena (Cinta Pertamanya) terkesan sedikit berlebihan , namun itulah pointnya. Kesabarannya mengajarkan kita bahwa cinta seperti itu memang ada, kekuatan cinta memang sangat kuat jika hanya untuk membolak-balikkan akal manusia.
.
.
Dalam penggalan-penggalan percakapan dalam novel ini, banyak berisi pesan-pesan moral yang disiratkan dalam bentuk puisi atau kalimat-kalimat emas para pujangga itu.
Saya jatuh cinta dengan novel ini dan beruntung untuk bisa membacanya berkali-kali.
Meremang bahagia haru dan pilu, itulah perasaan yang selalu saya rasakan ketika lembaran terakhir novel ini saya sibak. Seandainya setiap orang bisa seperti sabari, mencinta dengan sabar, tulus dan sepenuh hati.

Komentar
Posting Komentar