Maa woman (1)
Aku tersentak dari lamunan jalinan saraf kusut yang belum menemukan tangan mahir untuk mengurainya menjadi lebih lapang daripada sesak. Aku masih hanyut dalam irama aliran air yang terkadang terdengar menghilang seiring angin semilir menjadi henti. Wanita tua itu hadir lagi dalam imajinasi hati. Wanita tua yang masa tuanya ia habiskan untuk bermunajat dalam rengkuhan malam hanya untuk pengharapan atas masa mudaku. Sosok itu muncul dalam balutan yang biasa ia kenakan dengan sanggulan khas rambutnya yang memutih dimana-mana. Ia mengajakku menyantap kue-kuean yang baru saja ia masak di sore teduh itu di pondok kecil didepan rumah sederhananya yang semerbak dengan bebauan bunga-bunga yang aku belum pernah lihat. Dari pendopo ini aku memandangi pepohonan akasia yang berbaris rapi diatas tanaman rumput yang berbukit membentuk setapak yang sangat indah yang disinari oleh pantulan mentari ashar dari danau tenang yang tepat disamping rumah berbilik bambu ini. "Kenapa tempat ini begitu indah dan sunyi? Kenapa rumah kecil ini begitu harum dan menenangkan? Kenapa semua ini harus nenek nikmati sendiri? Kenapa sejak nenek meninggalkanku 3tahun lalu tak pernah menjemputku untuk berkunjung? Kenapa nenek begitu sempurna mempersiapkan semua ini dengan segala hal yang kusukai hingga aku terpesona dan tak ingin pergi? Dan kenapa aku hanya diundang makan kue bukan untuk menetap bersama? Ini luarbiasa, aku hanya ingin disini aku ingin disini tempat yang indah ini dan dengan nenek." Tanyaku memburu dan tanpa terelak cucuran airmata mengalir dengan deras tanpa permisi. Wanita tua yang kupanggil nenek hanya tersenyum dan kembali masuk bilik indahnya. Aku tertegun dan kembali mengamati setiap jengkal tempat luar biasa ini. Aku mencoba mengingat dari jalur mana aku datang dan dengan bus apa. Aku terus berusahaa mengingat semua sejak awalmula tempat aku bertemu nenek lagi. Akh. Aku sial. Setitik memoripun tak kutemukan. Apakah aku ada di alam yang berbeda? Apakah nenek sudah tiada? Aku lirik sepatu gunung yang kupakai. Sepatu yang kubeli 5 hari setelah kepergian nenek. Aku bahkan tak bisa mengingat kenapa dan bagaimana sosok nenek bisa menghilang dari hidupku. Akh belakang kepalaku kembali berdenyut. Aku merasa terlalu lelah. Aku raih handphone dalam saku celana sport ku. Naas aku pikir aku telah menghilangkannya. Bagaimana? Bagaimana aku bisa mengabadikan moment saat aku bertemu nenek? Bagaimana aku bisa menikmati tempat indah ini lagi jika aku kembali nanti? Haaah aku teguk habis teh melati yang harumnya membuatku lebih rileks. Aku buka sepatu dan masuk kedalam.
"Nenek?" hening
"Nek,nenek dimana? Dedek mau tidur bentar boleh nek?" masih hening.
Aku berjalan terus kebelakang dan sampai seratus meter kedepan tak kutemui penghujung rumah ini.
"Subhanallah" pekikku dalam hati. (To be continue)
"Nenek?" hening
"Nek,nenek dimana? Dedek mau tidur bentar boleh nek?" masih hening.
Aku berjalan terus kebelakang dan sampai seratus meter kedepan tak kutemui penghujung rumah ini.
"Subhanallah" pekikku dalam hati. (To be continue)
Komentar
Posting Komentar