My sadness cause lost my own Rainbow :'3
Meskipun dunia dan mereka mengabaikan kepercayaanmu,
ketahuilah! Tuhan punya cara untuk membalas ketegaran jiwamu dengan kerendahan
hati, keikhlasan dan rasa sabar. Tetap tersenyum dan bayangkan mereka yang kau
sayangi. Ikhlas mencintai dan memberi, dan kau akan dapatkan Syurga yang
hakiki. (Atika Nurfhasa Siregar)
Medan, 14 Agustus
2013
Pagi ini matahari bersinar malu, aku meraih langkah-langkah kecil
dalam setapak tanah liat yang basah oleh gerimis fajar. Genggaman tangan penuh
dengan pelbagai atribut ospek mahasiswa baru yang terlihat tak asing bagi
kebanyakan mahasiswa baru. Seragam hitam putih lengkap terlihat rapi membalut
tubuh-tubuh mungil remaja yang beranjak dewasa dalam segudang keribetan mereka
membawa atribut-atribut berwarna-warni. Aku berjalan bergegas mengikuti alur
mahasiswa menuju aula unversitas ini. Sesekali aku raih handphone berharap sms
ku mendapat jawaban. Aku fokus pada
obrolanku di sms dengan teman seperjuanganku saat SMA. Aku berputar , mencari-cari
wajah itu, hingga tak sadar aku berjalan mundur dan ...
*BRUUK*
*ADUUUH!!
“Maaf.” Aku menganggukkan badan lalu melangkah menjauh dari orang
yang tak ku sengaja tertabrak itu. Aku berjalan cepat sambil sesekali
membenarkan jilbab paris hitamku dan memegang pundakku yang terasa ngilu.
“PEMBERITAHUAN! SEMUA MAHASISWA BARU HARAP MEMASUKI GEDUNG AULA”
Terdengar peringatan yang sedikit menyebalkan karna aku harus
mendengarnya berulang lebih dari lima kali. Semua mahasiswa masuk dengan
langkah bergegas dengan sejuta raut wajah berbeda yang terlihat lucu.
NEWZEALAND,AUSTRALIA (HARI INI, 15
JUNI 2015)
Aku tatap foto-foto dalam layar laptop. Di foto pertama terlihat 3
mahasiswa baru yang masih mengenakan seragam hitam-putih. Di foto kedua tiga
orang itu sudah menjadi empat, mahasiswi manis yang berbadan subur itu
melengkapi keganjilan mereka. Di foto ketiga semua telah menjadi enam, tampak
dua mahasiswa itu tetap menjadi primadona karna yang bertambah adalah masih dua
mahasiswi manis. Aku terpekur sedikit lama dalam foto ketiga itu. Teringat bagaimana
foto itu bisa memiliki background di kafe yang jauh lokasinya dari kampus kami.
Hari itu, jika ingat hari itu semua terasa mengharukan dan indah. Indah saat
ingat bagaimana ketulusan menyatukan enam jiwa itu. Semua itu terjadi begitu
saja dalam kebisingan lalu lintas kota yang memaksa kami menyemangati dua
jagoan kami untuk terus berjuang hingga bengkel terdekat. Di foto keempat kami
masih terlihat hanya ada enam mahasiswa. Tapi satu jagoan kami sedang bertugas
menjalankan kewajibannya di hari Jum’at. Lalu kenapa enam? Ya, gadis cantik
yang melengkapi itu adalah matahari kami. Dia tawarkan angin saat kami gerah,
and it’s true. We love her.
***
Hari ini kegiatanku sangat padat. Aku harus pergi ke perpustakaan
kota untuk menyelesaikan jurnalku hingga akhir pekan nanti agar bisa berakhir
pekan dengan tenang di Perth. Kursus musim panasku baru dimulai 3 hari. Itu
berarti aku masih punya waktu 3 minggu lebih untuk menikmati kehangatan musim
panas Australia. Kesibukan yang menyita membuatku hampir tidak pernah membuka akun sosmedku. Sepulang
dari perpustakaan kota dan merasa masih punya sedikit waktu kosong, aku
sempatkan untuk mampir di Internet cafe yang berada tepat di perempatan jalan
St.Louira. Aku buka akun facebook dan terlihat lebih dari dua puluh pemberitahuan
disana. Beberapa hanya permintaan game dan fanspage, tak ada yang terlalu
penting. Aku lihat beranda, dan aku menemukan kecewa. Aku kecewa.
Tebing Tinggi (1 Juni 2014)
“fake
face, fake smile, fake friends” (n)”
Aku belum berhenti jua terisak. Riri dan neo, dua sahabat terbaik
sejak SMP yang kumiliki tak henti-hentinya berkicau memarahi aku dalam
conference call yang kami lakukan.
“Yaampun wak, sumpah demi apapun aku jealous kau nangisi
orang-orang yang tega bilang temennya as a fake friends. Kenapa kau harus bodoh
gini? Dan bodohnya kenapa kau harus pake ngerendahin diri segala dengan sms
mereka mohon-mohon supaya ga bilang kau fake. Buka matamu wak, bukan cinta aja
yang buta yaa, kau juga buta dibuat mereka. Kenapa kau harus nangisi mereka
yang ngelukai kau? Sedangkan kami yang sering kau abaikan demi mereka masih
disini.” Repet neo
“Iya beb, neo bener bangeeet. Kami kenal kau udah bertahun-tahun
beb. Bukan setahun belum genap kaya mereka. Udahlah, cari temen baru buatmu itu
gampang banget loh. Jangan gini terus dong beb, kami memang gak bisa ada di
sampingmu setiap hari, gak bisa meluk kau tiap hari lagi, tapi buktinya kami
masih tetap bisa kan dengar ceritamu tiap hari? Kami selalu ada kan walau tanpa
raga? Kita tetap saling mencintai gini kan karna kita bersahabat dengan hati.
Kita juga bisa awet gini karna gak pernah ada sedikit pun rasa curiga diantara
kita. Kita saling percaya seratus persen dengan apa yang kita dengar tanpa ada
niat menyelidiki kebenarannya. Karna aku tau beb, jika ada aja sedikit rasa gak
percaya diantara kita semua nya itu hanya akan menjadi singkat. Percayalah,
nangismu itu sia-sia. Karna dimata mereka semua itu masih samar-samar. Mereka
belum sepenuhnya percaya dan mengerti jalan fikiranmu seperti kami. Mereka
masih memiliki rasa curiga dan meragukan ketulusanmu.” Tegas Riri dalam
kelembutannya. Terasa dia menahan amarah dalam tiap katanya.
Aku masih terus menangis hingga akhirnya neo dan Riri memutuskan
untuk mengakhiri panggilan. Aku terus menangis hingga tak sadar aku tertidur
pulas.
Saat bangun pagi aku tatap wajah dalam cermin datar yang
tergantung sedikit ketinggian di tepi jendela. Kantung mataku terlihat begitu
sembab. Aku merasa lebih baik saat aku membaca pesan cinta dari dua sahabat
tersayang. Tanpa sadar aku memberanikan diri untuk membaca pesan-pesan
sebelumnya dan tak terasa mata ini kembali basah. Pedih. Pedih tak terperi.
**
MEDAN, NOVEMBER 2014
Sudah hampir setengah perjalanan yang kulalui. Namun mataku tak
pernah lepas memandang awan-awan putih yang berarak dari jendela pesawat.
Melihat para awan terbang dengan ringan membuat perasaan ini lebih ringan.
Entah kenapa tiba-tiba mata ini meminta terpejam. Aku lirik sekilas jam tangan
manis pemberian kenalanku dari Jerman. Hari belum terlalu terik, karna matahari
masih ada di periode duha (sepenggalan naik). Tapi sinarnya mulai sedikit
menyilaukanku. Aku tutup jendela pesawat dan menyandarkan punggungku ke
belakang dan mulai meraih ac untuk dimatikan.
45 menit kemudian terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan mendarat.
Aku mulai memasang sabuk pengaman dan melihat barang-barang di dalam tas
sandangku untuk memastikan tidak ada yang terjatuh. Aku dapati surat dari
kedutaan besar Australia di dalam tas sandang unguku itu. Aku tersenyum, senyum
yang hampir tak sadar. Anganku terbang hingga seakan merasa bukan dilangit
sumatera. Aku lihat semua seperti Australia yang ada di televisi. Fatamorgana
atau khayalan terkadang terlihat sama dalam nyata.
Dari Kualanamu International Airport
aku pulang dengan bus Damri ke kota Medan. Maklum, sebagai mahasiswa harus
butuh penghematan yang ekstra. Sepanjang perjalanan, seperti biasa aku menatap
luas keluar jendela menikmati tiap jengkal keindahan kota yang kulalui. Aku
sendiri tersadar bahwa kini aku sendiri, sendiri menapaki semua ini. Tanpa
Riri, tanpa Neo, dan tanpa mereka, orang-orang yang sampai saat ini aku tak
pernah tau seperti apa aku sebenarnya di mata mereka. Melow ku datang, dan aku
merasa mataku basah. Aku tatap wallpaper hp yang berisi tujuh wajah ceria
berwarna kuning cerah. Truly, I miss them so bad. T.T
Dalam keriuhan kampus kau selalu akan dapati aku sendiri disini.
Menikmati tiap baris kalimat dalam tulisan yang sebenarnya tak begitu ku pahami makna,
hanya mengagumi keindahan tatanan bahasanya. Aku sering dapati siluet mereka
dari balik jendela ruang kecil ini. Aku bisa merasakan aroma kebahagian mereka
dengan pelbagai gadget yang selalu sibuk dan tawa-tawa yang hadir diantara
mereka. Aku sepi disini. Kalian tertawa disana. Dan aku bahagia, karna kalian
tertawa, karna aku sendiri disini, karna aku menikmati wajah bahagia kalian,
karna semua terlihat lebih baik dan normal saat aku hilang, dan karena memang
lebih baik seperti ini, mencintai kalian dalam diam, memandang kalian dalam
sepi, dan menangisi kalian dalam cinta. Bukan aku lemah seperti ini. Aku merasa
seribu kali aku lebih kuat dan tegar dari biasanya. Karena aku yakin. Jika kita
sungguh-sungguh menginginkan cinta, maka cintalah yang pada akhirnya justru
menunggu kita. Aku tak bisa berharap banyak cinta kalian yang menungguku,
mungkin hanya dalam rasio 1:99. <3 RAINBOW
**
Kini khayalku kembali ke dunia nyata. Nyata benar-benar seperti
yang sebenarnya. Aku telah pernah memiliki semuanya. Semua yang indah termasuk
mereka. Hingga saat ini aku belum jua mengerti kenapa aku harus menyimpan nama
mereka sangat jauh dan dalam hingga aku tak mampu meraihnya untuk menjadi
musnah. Semua yang pernah aku miliki terlalu indah. Semua terlalu sempurna.
Hingga aku merasa semua itu hanya fatamorgana pagi surya yang menyilaukan di
pengawal hari-hari mudaku. Tuhan dan dunia ini sangat adil. Hanya saja tidak
semua orang bisa mengerti letak keadilan itu. Andai saja kita selami bagaimana
pelangi yang begitu memesona dan indah justru hadir setelah langit penuh dengan
kekelaman dan basah, hanya ucap syukur yang akan terdengar mengudara. Semua ini
indah, hanya bagaimana kita melihat keindahan itu bukan hanya dengan mata namun
juga cinta.
Komentar
Posting Komentar