cintaa itu ?


Hari  ini cinta datang menyapaku lagi. Dia manis, jauh lebih manis dibandingkan secangkir coklat panas yang ku seduh pagi ini. Ku tatap bayangku di cermin datar yang bergantung disudut kamar. Terlihat rona merah merambat perlahan. ‘Ah sial, kenapa menjadi seperti ini saat dia terlintas difikiranku?’
Kuingat-ingat pertemuanku dengannya kemarin siang. Sungguh demi apapun tak ada yang istimewa. Tak ada momen yang berhak merubah warna pipiku saat mengingatnya. Perbincangan yang terjadi hanya tentang beberapa history umum dihidup masing-masing. Seperti asal sekolah atau bahkan yang lebih dalam hanya tentang apa tujuan dalam karir kedepan. Yah, simple memang. Simple dan sungguh nothing special. Tapi satu hal yang kudapat. Kesan pertamaku. Dia sungguh tak sama seperti dia yang kukenal dari opini orang-orang. He is different. Dia memang wanna be cool, but he not too bad. Deskripsi dirinya yang selama ini kukarang bebas dikepalaku berubah 180 derajat sejak hari itu.
Siang ini kucari siluet dirinya diseantero fakultas. Tak ada sedikitpun tanda bahwa dia ada. Bahkan mungkin lantai dan dinding sudah lelah berteriak padaku agar lebih baik pulang atau duduk di ruang baca karna dia tak akan datang hari itu. Tapi entah kenapa, instingku membantah.
Aku terpekur dalam. Menginci setiap jengkal parkiran mobil dari atas lantai ini. Sedetik jantungku berdesir. Reflex aku lihat ke lorong sebelah kiriku. Sekelebat bayangan yang sepertinya telah lama kunanti seakan terlihat nyata. Tapi miris, nyaris tak ada siapapun yang melintas pada detik itu. Aku palingkan kepalaku ke kanan dan Oh God! I found him. Dia berjalan penuh percaya diri dan sangat rilex sambil terlihat begitu menikmati alunan music dalam earphone di telinganya. Aku sapa dia dalam keberanianku yang sudah tak perlu diragukan dalam hal berinteraksi. Tak terlalu sulit untuk menjadi biasa saja dan terlihat lugu saat itu.
“Hai” aku berikan senyuman polosku yang sungguh aneh menurutku.
“Oh hai” katanya tersenyum dengan sangat memesonaku.
Sebelum aku lanjutkan, mungkin dia tak seperti apa yang tengah kalian fikirkan. Dia tak setampan Steven William atau semanis Afgan Syahreza. Dia hanya seorang yang berdedikasi tinggi, memiliki intelektualitas yang tak perlu diragukan dan pastinya berkharisma. Tak bisa dibantah bahwa dia menjadi sangat terlihat biasa saja dimata wanita lain. But he is something in my eyes. Tapi menyedihkan, dia sudah ada yang punya pemirsa !
Hei , ayo berfikir realistis. Cinta terkadang hadir diwaktu yang sangat tidak tepat. Mungkin saat ini dia bukan orang yang mengisi harimu. Tapi nanti J
Matahari sangat bersahabat hari ini. Aku lihat jadwalku untuk hari ini di memo kecil yang aku ambil dari sisi kiri ranselku. Aku menuju ruangan yang sudah seperti kantor pribadiku karna disanalah aku menyelesaikan semua urusan kuliah. Aku dapati banyak orang disana. Beberapa mahasiswa tampak menyegarkan diri didepan kipas angin diruangan itu. Beberapa tampak mencharger gadget mereka , dan kau tau? Aku lihat dia dalam ketergesa-gesaannya membereskan semua berkas-berkasnya yang entah apalah itu sambil sesekali memeriksa sambungan pengisi daya ke laptopnya.
Bulu tanganku meremang, jantung berdesir sekali lagi. Ah, benar-benar sulit ya. Aku masuki ruangan itu dan say hello sekenanya kepada sesiapa yang duduk menikmati ruangan itu. Sejenak aku diam dan sibuk dengan handphone ku. Tanpa kusadari ‘dia’ memanggilku.
“hey, hey dengar kakak gak sih ?’
“eh, iyaa kak, ada apa kak?” jawabku gugup
“jagain nih bentar ya, kakak mau revisi proposal sebentar ke kantor dosen” sambil senyum walau tak nampak.
“oke kak, siip tenang aja.”
Dia pun berlalu, aku rasakan sedikit aroma tubuhnya dalam diam. Dalam hati aku bersyukur menjadi diriku. Aku bisa berbicara dengannya sedekat itu, dan dia percayakan aku untuk menjaga barang miliknya. Haaa terdengar berlebihan memang, tapi itulah yang pasti akan kalian rasakan saat menjadi seperti diriku. Saat cinta datang dengan penuh keangkuhannya padamu, namun dia tampak tak seangkuh kehadirannya ketika berhadapan denganmu. Semua terasa seperti, yaaa rasa itu menjadi semakin besar, lalu ke-PD an atau bahkan terkesan GEER banget. Haha yaaa peduli banget sih emang bener kok itu yang dirasain..
Aku tinggal sendiri dalam ruangan itu. Yang lain pergi untuk membeli makanan karna waktu makan siang sudah hampir habis. Dia datang. Aku merona lagi, sekarang hanya ada aku dan dia. Dia tersenyum sambil melepaskan pengisi daya yang tersambung di stopkontak di dinding ruangan. Terlihat cekatan merapikan wayar2 charger dan memasukkan semuanya dengan apik kedalam tas. Dia mendekat.
“terima kasih ya dek” dia tersenyum saat mengucapkannya.
“iyaa kak woles ajaaa, sama-sama “ senyum yang lebih manis.
“oh yaa, kalau ada apa-apa bisa hubungin kakak, ini nomornya” dia menyebutkan 12 digit angka secara cepat dan lalu bergegas pergi setelah terlebih dahulu pamit.
Aku ingin mencari springbed dan lompat2 hingga aku lelah dan tertidur. Apapun itu, aku senang. One step closer.
Aku pegang handphone, dan untuk kesekian kalinya aku hapus semua huruf dilayar. Gelisah atau salah tingkah? Aaah, mungkin keduanya. Hati kecilku berbisik, nekat!
“aslkum, sore kak. Ganggu gak  ?”
“siapa ini?
Aku ketik balasan.
“safa kak, masih inget kan? Stambuk 013 kak J
5 menit kemudian datang balasan darinya.
“oh ya, tapi maaf. I am his Girlfriend, ada yang perlu disampaikan? Dia sedang sibuk J
Ah, aku skeptic. Rasanya kaki tak mampu menapaki lantai tempatku berpijak ini lagi. Well, siapapun wanita itu, sungguh a lucky girl. Ah entahlah. Kepalaku sakit dan mataku perih. Aku ingin terlelap malam ini dan segera menonaktifkan handphone ku. Mungkin dengan tak terlalu berharap. Membuatku lebih baik esok.

***Selesai***

Komentar